Monumen Kasih untuk ARA

depan Patung Liberty di New York
Anakku sayang. Sedianya surat ini ditulis delapan hari silam, yakni tanggal 2 Desember demi merayakan usiamu yang menapak empat bulan. Sungguh amat disayangkan. Saat itu aku sedang sibuk menyiapkan perjalanan mengunjungi beberapa kota. Aku telah melewati banyak tempat di negeri paman sam ini, menyaksikan banyak monument yang hendak membekukan ingatan, melihat ulang pencapaian manusia di banyak bidang; artistik, seni, teknologi, hingga menelusuri rimba raya dalam berbagai museum.

Entah kenapa, dalam perjalanan ini, sosokmu tak bisa lepas dari benakku. Kamu hadir di semua tempat yang kulihat. Saat menyaksikan banyak monumen, aku senantiasa berpikir bahwa manusia sengaja membekukan ingatan tentang satu masa dan satu saat agar ingatan tersebut abadi dalam sejarah. Tiba-tiba saja aku ingin membangun satu monumen penting. Tentu saja, aku tak sanggup jika harus membangun sebesar obelisk raksasa di Washington sana atau seperti Patung Liberty di New York. Aku ingin membangun monumen di hatimu, agar dirimu kelak senantiasa mengingat diriku pada steiap fase penting perkembanganmu.

Anakku sayang. Rindu ini mulai menikam-nikam. Setiap hari kubayangkan apakah gerangan yang dirimu bayangkan saat mengunjungi bebeapa tempat. Kata ibumu, kamu sering tak betah berada di satu kamar yang sama sepanjang hari. Rupanya, hasrat petualangan telah mendarahdaging dalam dirimu sehingga kamu tak bisa lama berada di satu tempat. Kita adalah generasi penjelajah yang terlahir untuk belajar banyak hal pada setap inchi tempat yang bisa ditapaki manusia. Kita pembelajar hikmah, peminum saripati pengetahuan, hingga kelak menumbuhkan segala hal baik dan positif di sekitar kita. Itulah mata air kehidupan yang kita cari sepanjang hayat.

Ibumu bercerita bahwa dirimu sekarang sudah bisa tengkurap. Di tengah malam, kata ibumu, dirimu sering terbangun dan tba-tiba saja ingin tengkurap. Kamu mencoba dengan segala cara hingga berhasil. Setelah itu, kamu tak bisa kembali terlentang. Kamu lalu berusaha keras, kemudian menangis agar ibumu membalikkan posisimu. Nak, kamu hebat! Sebab kata ibuku, pada usia segitu, aku hanya bisa terlentang dan menanti-nanti air susu. Tapi kamu berbuat lebih. Kamu seorang pekerja keras yang kemudian meminta ibumu menuntaskan apa yang telah kamu rintis. Diriku bangga atas segala yang kamu capai pada setiap fase penting kehidupanmu.

sudut kota di Manhattan, New York

Di saat menulis surat ini, aku tengah kelelahan setelah bepergian. Entah kenapa, belakangan ini fisikku tak begitu baik. Mungkin aku merindukanmu. Jiwa dan ragaku lelah dengan perjalanan, yang tak bisa tidak, mesti kutuntaskan. Aku merindukanmu, merindukan tangis dan tawamu. Aku merindukan ikatan abadi antara dirimu dan diriku. Kita memiliki ikatan yang mustahil bisa diputuskan. Kita memiliki ikatan kasih yang akan abadi dan tak lekang dipanggang matahri terik, ataupun dibekukan dingin malam. Aku menyayangimu. Aku berjanji untuk membangun monument indah di hatimu.

Setelah menjelajah selama seminggu beberapa kota penting di negeri adidaya ini, aku akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa hanya ada satu monument yang bisa membahagiakanku. Tempat terbaik untuk direnangi adalah keluasan samudera hatimu dan ibumu yang mengikhlaskan diriku berkelana hingga ke titik ini. Itulah tempat terindah untuk kukunjungi. Itulah tempat yang membersitkan maahari kebahagiaan di hatiku. Dirimulah monumen terindah yang pernah kutemui. Dirimulah sekuntum mawar indah yang tumbuh di hatiku, dan akan kusirami dan kujagai, lebih dari diriku sendiri.


Athens, OHIO, 10 Desember 2011

3 komentar:

mila mengatakan...

trenyuh...kapan Ara dan bundanya nyusul, mas Yus?

Anonim mengatakan...

selamat berjuang sahabat....
tunaikan bakti sucimu, kami hanya mampu berdoa agar engkau mencapai apa yg selama ini engkau impikan..... (mito)

Dianne mengatakan...

So sweet....GBU

Posting Komentar