Melihat Langsung Hibridisasi Islam

1 Oktober 2007


SELAMA bulan puasa kali ini, aku selalu menyempatkan waktu untuk berbuka puasa di masjid Kukusan, Depok. Biasanya, jamaah yang berbuka puasa di masjid ini cukup banyak, sebab terletak di tengah-tengah kawasan kos mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Hal lain yang membuat masjid ini selalu ramai adalah selalu disajikan makanan buka puasa. Meski jumlahnya tidak banyak, namun selalu rutin, mulai dari kolak pisang, hingga beragam kue. Untuk minum, selalu disediakan es lemon atau teh manis.

Kemarin, ada sesuatu yang baru. Saat memasuki masjid Kukusan, aku menyaksikan ada sejumlah pria asing yang datang dengan mengenakan baju gamis memanjang hingga mata kakinya. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata mereka adalah pria dari kelompok Jamaah Tablig asal India, yang beberapa di antaranya sudah pernah datang ke kamarku. Rata-rata berhidung mancung dan memelihara jenggot yang memenuhi pangkal dagunya. Beberapa di antara mereka berusia lanjut. Itu terlihat dari jenggot yang sudah memutih, hingga nampak seperti guru silat yang sakti mandraguna dalam beberapa film Indonesia jaman dulu. Bentuk songkoknya agak unik. Biasanya, songkok itu hanya berupa kain putih dan melingkari kepala, yang di kampungku lazim disebut songkok haji. Namun yang kusaksikan ini agak berbeda. Bentuknya berupa kain putih melingkar, namun kian runcing ke atas.

Rombongan yang berasal dari India itu duduk berbaur dengan jamaah yang rata-rata adalah mahasiswa di sekitar situ. Aku menyaksikan rombongan itu ditemani rekannya, sekitar enam orang anggota Jamaah Tablig asal Indonesia. Mereka inilah yang menjadi penghubung antara warga India itu dengan mahasiswa di situ.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana buka puasa kemarin, sungguh berbeda. Makanan yang biasanya pas-pasan untuk jamaah buka puasa, tiba-tiba membeludak. Kusaksikan beberapa nampan berisi semangka, pepaya, kurma, hingga beberapa kardus minuman teh kemasan gelas. Biasanya, menu buka puasa hanya berupa kue dan disajikan dengan sangat pas-pasan. Satu piring kue, akan dikerubuti sekitar lima orang mahasiswa. Namun kemarin, jumlah kue dan makanan sangatlah banyak. Menurut seorang remaja masjid, jamaah India itu yang menyediakan demikian banyak makanan. Pantas saja, kalau jumlah makanan menjadi banyak.

Hingga saat buka puasa, semuanya berjalan biasa-biasa saja. Waktu berbuka puasa bagi mereka, sama saja dengan waktu berbuka kami di masjid. Usai berbuka, rombongan dari India itu langsung masuk masjid. Mereka semua mengambil tempat di belakang imam sambil berzikir. Saat semua jamaah masuk masjid, ada jeda yang cukup panjang bagi imam untuk memasuki masjid. Saat itu, imam tidak duduk di tempat yang semestinya, melainkan berbaur dengan jamaah yang ada di belakang. Usai salat sunat, ia menyilahkan salah seorang warga India itu untuk memimpin salat. Namun,

BELUM SELESAI.....

0 komentar:

Posting Komentar