Tuesday, November 10, 2009

Bayi Gagasan yang Tak Tumbuh Dewasa


KADANG-kadang kita tidak pernah peduli dengan sekeping gagasan. Kita kadang acuh pada ide-ide yang berseliweran dan tanpa sadar pernah kita lontarkan. Padahal, boleh jadi gagasan itu adalah emas, sesuatu yang amat berharga jika dikemas dengan tepat. Apa yang pernah disampaikan dalam obrolan lepas itu, boleh jadi adalah intan berlian yang kemudian ditemukan orang lain dan diklaim sebagai miliknya.

Beberapa tahun yang lalu, saya banyak mengamati fenomena politik lokal di Sulawesi Selatan. Saat masih bekerja di sebuah media, saya pernah menulis tentang fenomena munculnya dinasti atau klan politik. Saat itu, saya mengamati fenomena keluarga Syahrul Yasin Limpo (saat itu belum jadi Gubernur Sulsel) yang kesemuanya merambah ke jalur politik. Beberapa kali saya pernah menulis tentang fenomena ini dalam beberapa opini saya di Tribun Timur.

Suatu hari, saya mendiskusikan pengamatan saya dengan Michael Buehler, peneliti berkebangsaan Swiss yang kuliah doktoral di London School of Economics. Saya membahas fenomena Syahrul dan saat itu saya jelaskan pandangan saya tentang munculnya dinasti politik dalam iklim politik di Sulsel. Buehler (saya menyapanya Michael) menyimak dan merekam semua diskusi yang dua kali kami adakan di Kafe Lagaligo, Makassar. Suatu hari, ia datang ke tempat kerja saya. Saat itu saya menhadiahkan banyak arsip liputan media selama beberapa waktu tertentu. Ia balik menghadiahkan sebuah gantungan kunci berbentuk bendera Swiss yang amat cantik dan saya jadikan gantungan kunci motor yang tiap hari saya kenakan.

Komunikasi dengan Michael selanjutnya putus, sebab saya berangkat ke Jakarta. Ia meminta teman saya Riza menjadi asistennya selama melakukan penelitian di makassar. Saat saya di jakarta, beberapa kali saya berusaha menghubungi Michael, tapi tidak ada kabar berita.

Dua hari yang lalu, saya membeli Jurnal Prisma yang berisikan pemikiran para ilmuwan sosial di Indonesia. Ada tulisan yang menarik dari Antonius Made Supriatna berjudul "Menguatnya kartel Politik Para Bos." Yang menarik adalah ia membahas tentang fenomena politik di daerah-daerah dan munculnya klan-klan atau dinasti. Yang mencengangkan saya, dalam catatan kakinya, ia banyak mengutip tulisan Michael Buehler yang berjudul "Rise of the Clans: Direct Elections in South Sulawesi is Coming to Power in Indonesian's Regions." Tulisan Michael dimuat dalam Inside Indonesia (vol 90, November-Desember 2007). Dalam catatan kaki tersebut, Supriatna menyebut Michael yang membahas fenomena dinasti politik keluarga Syahrul Yasin Limpo di Sulsel.

Saat itulah saya tersentak. Sebuah ide lepas yang beberapa kali saya diskusikan dan hanya ditulis untuk konsumsi media, di tangan Michael bisa menjadi analisis ilmiah di satu jurnal bergengsi. Saya belum pernah melihat langsung tulisan Michael itu. Tapi saya berani memastikan bahwa banyak ide yang disampaikannya bermula dari diskusi kecil dengan saya di Makassar. Kelebihan Michael adalah karena ia bisa mengembangkan ide itu secara terus-menerus menjadi sebuah gagasan yang seolah orisinil. Meskipun bagi saya, gagasan itu tidak benar orisinil sebab saya pernah mengemukakannya. Sayangnya, saya hanya melepaskan ide-ide itu dalam diskusi lepas, tanpa berniat menuliskannya dalam bahasa ilmiah dan dipahami audience yang luas. Saya tidak mensistematisasi gagasan tersebut ke dalam bahasa jurnal ilmiah hingga diketahui oleh banyak orang. Saya hanya memendam gagasan tersebut, hingga gagasan itu kehilangan ruang untuk tumbuh mengakar, batangnya menumbuh dan menjangkau langit-langit pemikiran. Ini adalah catatan kelemahan sekaligus kekaguman saya buat Michael. Di tangannya, gagasan tentang dinasti politik itu menjadi lebih bergema ke dunia luar.

Tapi, setelah lama merenung, jujur saya katakan kalau saya dalam keadaan bimbang. Saya tidak tahu, apakah saya harus mengapresiasinya, ataukah saya harus kesal dengan bayi gagasan saya yang tak sempat tumbuh.

[+/-] Selengkapnya...

Monday, November 09, 2009

Selamat Atas Terbitnya Jurnal Prisma


JURNAL Prisma terbit lagi. Akhirnya, ada juga bacaan yang bisa menjadi representasi tentang sejauh mana pertarungan intelektual ilmuwan sosial dan ekonomi Indonesia. Selama ini kita tak punya arena untuk mendebatkan pemikiran dalam ilmu sosial. Palingan, cuma secuil komentar di media massa. Kalaupun ada yang menulis, maka biasanya ditulis dalam bahasa yang ringkas, dan tidak terlalu mendalam. Susah menemukan kedalaman dan ketajaman analisis di media massa hari ini.

Pada masa Orde Baru, Prisma ibarat isi kepala para ilmuwan sosial Indonesia. Kita jadi tahu, wacana apa saja yang sedang marak, dan bagaimana para ilmuwan itu mendekati persoalan. Prisma adalah panggung tempat pergulatan gagasan-gagasan ilmiah, tidak sekedar debat wacana di media massa, yang kadang-kadang lebih banyak asalnya, ketimbang susunan pernyataan yang secara metodis lebih bisa dipertanggungjawabkan. Melalui Prisma, kita bisa mengukur sejauh mana ‘kelas’ seorang ilmuwan dalam dinamika gagasan yang lebih berisi.

Kali ini, Prisma terbit setiap tiga bulan. Saat ini sudah dua edisi yang terbit, dan saya sudah memiliki keduanya. Kemarin saya membeli edisi kedua yang temanya adalah Menuju Indonesia Masa Depan. Kerinduan saya atas tulisan Daniel Dhakidae dan Ariel Heryanto akhirnya terobati. Saya menikmati isi jurnal Prisma kali ini.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Ingin Mengukir Langit


………..
Saya tidak ingin punya rumah besar
Saya tidak gila dengan mobil mewah
Saya tidak mengincar kekayaan yang menimbun
Saya tidak mimpi keliling dunia
Saya tidak serakah dengan apapun

…………
Saya hanya ingin bersamamu…..

Ingin mengukir langit denganmu…..

[+/-] Selengkapnya...

Friday, November 06, 2009

Lahar Amarah dan Kembang Cinta


Adikku Sayang...

Jangan terlalu lama menumpahkan amarahmu. Bukankah amarah itu kulminasi dari energi negatif yang kemudian meletus? Tetapi jika kemarahan akan mengeluarkan satu demi satu lahar kekesalanmu, maka lepaskanlah kemarahanmu. Kelak, lahar kekesalan itu akan habis juga setelah membanjiri aliran hidupmu, maka akan datanglah udara permenungan. Kelak kau dan aku akan tiba pada satu titik untuk mentertawai apa yang barusan terjadi. Kita sama-sama mentertawakan amarah yang lepas. Kita kembali sama-sama menemui ada begitu banyak hal yang lucu sebagai anugrah dalam hidup kita.

Berbilang purnama kita saling merajut hati. Sudah tak terhitung aneka kekesalan dan kebahagiaan yang pernah kita hadapi sama-sama. Kau dan aku adalah dua jiwa dalam satu tubuh.Kita sama-sama tumbuh dewasa dan disuburkan dnegan aneka pengalaman serta lelucon-lelucon yang sengaja kita ciptakan. Sesekali kita kekanakan, namun sesaat kemudian, kita kembali terpingkal-pingkal. kita sama-sama mencari keseimbangan baru. Untuk itu kita akan saling mengisi dan saling memaknai. Bukankah itu adalah esensi dari kebersamaan kita?

Adikku sayang,..

Tentulah kau paham bahwa ada saat di mana diriku kembali menjadi kanak-kanak dan ingin badung. Sesekali menerobos pagar api selanjutnya amarahmu membuncah. Demikian pula dnegan dirimu. Kadang-kadang kau memposisikan dirimu sebagai 'tim pengacau'. yang hendak mengesalkanku. Tapi aku tak pernah kesal. Justru lewat tingkah-tingkah badung itulah kita saling mengenal. Kita saling memaknai. Tanpa tingkah badung itu, aku tiba-tiba saja tersesat. Maka, bantulah aku sesekali mengirimkan mercu suar sebagai penolong bagiku untuk menggapaimu. Jangan biarkan kemarahan membakar semua energi positifmu. Jangan biarkan kekesalan mengalahkan hatimu.

Mungkin kamu sedang cemburu. Itu manusiawi kok. rasa cemburu adalah benih dari tumbuhan cinta. Setidaknya, sampai saat ini, aku harus selalu yakin bahwa selagi rasa cenburu itu masih tumbuh di hatimu, maka tumbuhan cinta itu tak akan pernah layu.

Adikku sayang,.

Tersenyumlah sebagaimana anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Kakakmu ini hanya bercanda saja. Kau sendiri beberapa kali bilang bahwa diriku adalah penulis picisan yang paling suka mendramatisasi sesuatu. Seolah tak lengkap mengisahkan sesuatu, jika tidak ada sensasi dan dramatisasi. Aku ingin semuanya heboh. Aku ingin menuai komentar. Dan betapa bahagianya diriku ketika menemui komentarmu. Itulah komentar terbaik yang jpernah kuterima. Jika diselami lapis-lapisnya, maka sesungguhnya ada tumbuhan cinta yang bunganya semerbak wangi. Dan kita sama-sama memetik kembang yang disuburkan oleh kisah-kasih dan aneka pengalaman kita yang saling memperkaya. Betapa bahagianya aku yang dipilih untuk menumbuhkan kembang itu. Dan akan kujaga, melebihi diriku sendiri.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, November 04, 2009

Tentang Negeri yang Dikutuk


KEN Arok menumpahkan darah Empu Gandring hingga negeri ini terus-menerus menjalani kutukan. Ribuan tahun silam, Gandring menghembuskan napas setelah melempar kutukan. "Arok,... peradabanmu akan penuh intrik. Tarunamu akan saling bunuh demi keris penguasa. Kukutuk negerimu," katanya dengan napas tersengal.

Arok hanya tersenyum simpul. Ia memikirkan kuasa di ujung keris bertuah itu. Hasrat kuasa dan gemerlap istana, serta kemolekan Ken Dedes telah membekap Arok hingga gelap mata dan menghalalkan segala cara. Arok mewariskan sejarah yang penuh horor. Dan kita di masa kini, ikut-ikutan menjadi Arok. Kita ikut-ikutan menikam sesama dan menjelmakan politik sebagai layer kain putih tempat para wayang saling menikam-nikam, tempat para dalang saling menguji skenario jahat. Dan betapa kasihannya mereka yang jadi kacung-kacung politik itu. Harus menjadi pion yang bergerak kesana ke mari, tebas sana dan tebas sini.

Politik disihir menjadi intrik saling tikam di balik layar. Kita sebagai anak bangsa dicekam dalam takut yang tak berkesudahan. Jikalau mereka yang berseragam itu, --yang semestinya menjadi punggawa dan menjaga keamanan kita semua--, tiba-tiba jadi kaki tangan orang jahat, lantas kemana lagi kita akan berpaling? Ketika pentas politik kita menjadi arena perseteruan para elite, maka kemanakah lagi kita berlindung mencari rasa aman?

Kita sebagai anak negeri selalu saja dijejali dengan kebodohan. Ketika satu demi satu kebodohan mulai terkuak, kita serasa menyaksikan babak baru dari pengungkapan spionase ala novel Sydney Sheldon. Negeri ini terlalu banyak sandiwara. namun, sebagaimana halnya novel spionase, sandiwara jahat itu tak selalu mulus. Akan selalu ada jalan bagi sebuah penyingkapan. Akan selalu ada tumbal untuk sandiwara baru, sebagaimana dahulu pernah menimpa Kebo Ijo yang petantang-petenteng memamerkan keris gandring. Dan di malam berikutnya, Arok menikam Kebo Ijo setelah sebelumnya menghabisi Tunggul Ametung, sang penguasa.

Mungkin, nujuman Gandring benar menjelma jadi kenyataan. Setidaknya, nujuman itu menjelma ke dalam ikatan jejaring kolektif yang kita sebut kebudayaan. Dalam kebudayaan kita, terror dan intrik sudah lama tersimpan rapi dalam peta-peta kognitif individu dan jejaring sosial. Kebudayaan itulah yang mengendalikan hasrat dan tindak-tanduk kita, mengendalikan semua laku gerak kita, menyediakan pilihyan-pilihan untuk kita ikuti atau amini. Intrik Arok menjadi salah satu alternative budaya yang paling sering dipilih manusia bodoh di zaman kini.

Pada akhirnya, dunia kehidupan menjadi bidak catur yang saling tebas. Dan ketika para pemimpin di masa kini amat pandai bersilat lidah tentang penegakan hukum, maka segera kita mulai waspada pada scenario lain di balik setiap pernyataan itu. Sesungguhnya, di balik panggung gemerlap itu ada duel yang kasat mata. Ada saling tikam dan saling tebas, sesuatu yang selama beberapa abad sudah menjadi kebudayaan kita sendiri. Sesuatu yang pernah diwariskan Arok pada kita. Maka terkutuklah negeri yang warganya saling tikam. Kalimat Gandring akan terus mengiang dalam setiap inchi gerak negeri yang penuh kutukan ini.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, November 03, 2009

Hukum Karet Gelang

HUKUM kita adalah resultan dari proses tarik-menarik dari berbagai kekuatan. Rezim siapapun yang sedang memimpin negeri ini, tiba-tiba saja memiliki kekuatan besar untuk mengendalikan semuanya. Hukum kita seperti karet gelang yang gampang ditarik ke sana-sini.

Namun, kasus Bibit Riyanto dan Chandra Hamzah ini memberi pelajaran bagi kita semua, bahwa sekenyal apapun karet gelang itu, maka pastilah memiliki ambang batas. Seperti apapun penguasa hendak mengendalikan hukum, selalu saja ada batas ambang kemuakan publik yang harus terus diperhitungkan. Kasus Bibit-Chandra ini adalah kotak pandora yang kemudian perlahan menjadi horor bagi penguasa yang selalu mendamba citra.

Tatkala kebenaran disingkap, tatkala publik mulai menggalang solidaritas, maka penguasa sedang dalam pertaruhan besar. Sebagai warga, kita sedang menantikan sebuah tontotan baru yang semoga bisa menyibak banyak hal. Meskipun, kita tak pernah tahu drama apa yang terjadi di balik panggung kuasa itu, kekuatan apa yang kemudian menarik-narik karet gelang itu hingga putus. Semoga ada kejutan besar di balik kasus ini. Semoga.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Membingkai Seulas Senyum

AKU menikmati saat-saat seperti ini. Saat ketika aku menatapmu malu-malu, kemudian menunduk saat mata kita beradu. Sungguh, saat seperti ini amat menegangkan bagiku. Aku lebih memilih maju ke medan laga, daripada penuh percaya diri datang menemuimu, kemudian sekedar menyapa "Apa kabar?"

Aku lebih memilih menjadi sasaran dari ribuan anak panah, ketimbang harus menatap matamu yang sedang tersenyum. Aku bahagia bisa selalu menatapmu dengan malu-malu. Semakin kupandang, kau semakin menarik. Busyet!! kayaknya aku mulai menyukaimu.

Aku tahu, kamu di sana juga menatapku malu-malu. Sesekali pandang kita beradu. Dunia serasa berhenti bergerak saat seulas senyum itu menyapa. Tiba-tiba saja, semua jadi indah. Ada getar listrik yang menyengat sesuatu di sini, di dalam hatiku.

Aku memang belum mengenalmu. Kita malah belum berkenalan. Setiap kali aku singgah makan di kafe ini, wajahmu adalah hal yang paling kunanti. kau tersenyum, duniaku tersenyum. Kadang-kadang kubertanya, kekuatan dahsyat apa yang terseimpan di balik seulas senyum itu? Kenapa setiap kali kamu tersenyum, serasa jantungku berhenti berdetak? Bisakah aku mengabadikan seulas senyum itu ke dalam satu bingkai dan kupajang di ruang tamu rumahku agar selalu kupandangi tiap saat. Bisakah aku mendapat kesempatan emas itu?

[+/-] Selengkapnya...

Monday, November 02, 2009

Generasi Penyusu Kuasa

ANAK-anak muda mulai kehilangan rasa heroik. Semuanya berlomba-lomba menyusu pada kekuasaan. Anak muda sudah mulai takut hitam karena kepanasan. Lembaga mahasiswa sudah ompong dan tidak mengaum lagi. Mereka terlalu cepat tua dan tenggelam dengan tugas-tugas kuliah, kemudian segera keluar dari kampus, menjalani hidup ala sinetron, cepat kaya, punya istri cantik.

Impian menjadi resi atau Begawan sudah kuno. Itu hanya impian masa silam, pada era kependekaran. Sekarang ini impian dikendalikan oleh keserakahan. Makanya, sikap heorik dan pembelaan pada kaum tertindas adalah lagu lama yang usang buat mereka yang masih menginginkan era romnatik yang dibakar puisi perlawanan Wiji Thukul, digarami dengan samudera kata mutiara WS Rendra.

Puluhan tahun setelah reformasi, generasi yang menang adalah generasi yang sejak dulu pandai berdandan. Mungkin kau pun harus bersolek biar kelak bisa jadi sekrup dari mesin besar tersebut. Tetapi di manakah api jiwa mudamu? Apakah api jiwa muda itu sudah kau gadaikan dengan keterlibatanmu sebagai tim sukses demi mendapat segepok uang? Apakah nurani bening yang dahulu kita miliki sudah pekat dengan gelapnya keserakahan yang mendamba kuasa?


Buat seorang kawan di dekat panggung kuasa….

[+/-] Selengkapnya...

Pemuda Seonggok jagung

Selama dua hari saya menuntaskan laporan penelitian di kafe Black Canyon, salah satu kafe paling elite di Makassar. Selama dua hari itu, saya berdiskusi dengan kawan, seorang akuntan, yang menemani menyusun anggaran keuangan. Kami membahas anggaran yang sampai ratusan miliar rupiah. Kami mengatur rencana lalu lintas uang ke banyak pihak. Ini pengalaman pertama buat saya.

Setiap orang punya batasan titik terjauh dalam imajinasi. Imajinasi saya tentang uang adalah sesuatu yang bisa ditemukan dalam kantong celana jeans, atau dalam dompet lusuh. Itupun jumlahnya hanya lembaran uang seribuan. Tatkala harus membayangkan dana sampai miliaran, imajinasi saya seakan menabrak tembok. Ini di luar batas imajinasi saya, dan betapa sulitnya mereka-reka tentang uang sebanyak itu.

Sepulang dari Black Canyon membahas uang miliaran itu, rasa lapar menyergap. Saya lalu merogoh dompet untuk memeriksa isinya. Dan, isi dompet hanya Rp 2.000, hanya cukup membeli indomie rasa kaldu ayam. Terpaksa saya mengisi perut dengan indomie. Saat itu saya merasakan paradoks. Beberapa menit lalu membahas uang miliaran, tiba-tiba saat hendak makan malam, uang di dompet hanya cukup membeli indomie. Inilah paradoks hidup.

Sekonyong-konyong, saya mengenang puisi Rendra yang berjudul Seonggok Jagung. Tentang seorang pemuda yang ingin berbuat banyak, pemuda yang ingin menjejak matahari. Akan tetapi saat balik ke rumahnya ia hanya melihat seonggok jagung untuk makan sehari-hari. Ia tak berdaya dan harus merenungi batas-batas paling realistis yang harus dipijaknya.

Dan sayalah pemuda yang melihat seonggok jagung itu…

[+/-] Selengkapnya...

Ingin Lenyap dalam Buku

BETAPA inginnya saya tenggelam dalam bacaan. Minggu lalu, saya beli banyak buku baik sastra, filsafat, maupun buku praktis. Mestinya minggu ini saya bisa lenyap dalam bacaan itu. Apalah daya, banyak tugas dan kegiatan yang menanti. Saya harus membagi waktu antara menulis laporan, membaca disertasi seseorang, serta berdiskusi tentang uang miliaran.

Minggu ini adalah minggu paling melelahkan buat saya. Ibarat hape, saya mulai lowbat dan butuh di-chast denan bacaan-bacaan baru yang menyegarkan. Tapi, waktu luang mulai jadi sesuatu yang mahal. Ah,,…. Mungkin saya butuh rehat dan sesaat mundur dari rutinitas yang melelahkan ini.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Friday, October 30, 2009

Apakah Quraish Shihab Seorang Syi’ah?


SERU juga menyaksikan adu argumentasi di bedah buku Sunnah – Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? karya Prof Dr Quraish Shihab yang digelar di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, hari ini (26/10). Meski terlambat datang, saya cukup beruntung karena bisa menyaksikan langsung bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam.

Yang menarik karena Quraish Shihab adalah seorang sunni. Namun ke-sunni-an itu tidak menghalangi pandangannya untuk meneropong isu Islam secara proporsional. Ia tidak mau mengkafirkan para penganut syi’ah. Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain.

Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya. Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya.

Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia tetap sunni yang mencintai keluarga Rasul dan juga bersikap kritis pada masa silam. Ia menolak disebut syi’ah, sebab ia adalah penganut sunni. Tetapi ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip. “Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“

Sayangnya, kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini.

“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya.

Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Saya menikmati diskusi ini. Saya rasa akan sulit mendebat seorang profesor bidang hadis yang sudah menulis banyak buku tentang tafsir. Mendebat Quraish tentang hadis adalah mengajaknya berduel di sebuah arena yang amat dihapalnya. Ia menghabiskan hidupnya untuk menelaah kitab-kitab sehingga pengetahuannya membukit. Makanya, saya tak mau ikut-ikutan latah. Saya lebih memilih belajar kearifan darinya, belajar pada keikhlasannya untuk menyampaikan kebenaran, apapun resikonya.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Test Pengajar Ilmu Politik

SAYA termasuk pihak yang alergi dengan politik. Kadang-kadang saya berpikir bahwa kegiatan politik adalah kegiatan membohongi orang banyak demi memaksimalkan keuntungan pribadi dan kelompok. Kadang-kadang saya berpikir bahwa politik itu kotor sebab bisa menenggelamkan kita pada sikap pragmatis, menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. Meskipun saya sadar juga, di tangan mereka yang bijaksana, politik bisa menjadi seni mengelola perubahan sosial.

Sayangnya, kebencian saya bidang politik harus disingkirkan dulu untuk sementara. Dalam waktu dekat, saya akan segera test menjadi pengajar politik di satu universitas negeri. Saya tak pernah membayangkan berkarier di latar ilmu politik. Pendidikan sarjana dan magister saya amat jauh dari ilmu politik. Tetapi anehnya, pihak kampus tersebut meminta saya untuk menjajal tes sebagai pengajar ilmu politik. Terpaksa, saya mengikut saja. Yang penting saya bisa menjalani test. Persoalan jurusan dan program studi, nantilah dilihat apakah bisa lulus ataukah tidak.

Sebab hidup seperti air mengalir...

[+/-] Selengkapnya...

Globalisasi yang Mematikan Petani Sutera

"Andaikan semua kokon ini bisa dimakan,
hari ini juga akan saya makan.
Saya tidak tahu mau dijual di mana,"


DEMIKIAN ucap lirih seorang petani sutera di Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ia tak berdaya tatkala kokon (kepompong) sutera --hasil kerja kerasnya selama beberapa waktu-- tiba-tiba teronggok di rumahnya, tanpa bisa dipasarkan. Kokon itu adalah hasil dari kerja memelihara ulat sutera selama dua minggu. Mestinya kokon itu dipasarkan kepada sejumlah pengusaha tekstil untuk diolah menjadi benang sutera. Kini, harapan itu ibarat menggantang asap dan mengukir langit.

Masuknya aneka benang sutera impor dari Cina dan India telah memukul iklim persuteraan di Wajo. Para petani menjadi pihak yang paling dirugikan sebab merasakan langsung dampaknya. Para pengusaha banyak yang beralih ke benang impor karena lebih murah dan berkualitas. Para pengusaha justru tenang-tenang saja, sebab akan semakin banyak pilihan terhadap benang. Jika ingin menggenjot produksi, mereka cukup memilih benang impor yang lebih murah dan lebih berkualitas. Sementara para petani justru tidak punya pilihan. Mereka hanya bisa gigit jari. Kokon yang sedianya bisa memberikan tambahan penghasilan, tidak bisa dipasarkan. Akhirnya, kokon itu hanya memenuhi gudang di desa-desa.

Selama beberapa hari bertemu dan mewawancarai para petani sutera, saya bisa merasakan kesedihan itu. Mereka kehilangan mata pencaharian yang digeluti sejak lama. Apalagi, rata-rata para petani itu menjalankan profesi yang dulunya juga dijalankan orang tua mereka. Profesi yang telah terwariskan selama sekian generasi. Tatkala kokon tidak bisa dipasarkan, lantas apa daya mereka? Mereka hanya bisa menyaksikan kenyataan pedih itu dengan mengurut dada.

Susahnya adalah karena tidak banyak pihak yang bisa mengerti dan memeta-metakan apa yang sesungguhnya terjadi. Sementara pemerintah hanya berhenti pada tingkatan janji dan komitmen. Ada begitu banyak baliho dan sticker di rumah petani yang menampilkan para calon bupati dan calon anggota legislatif (caleg) yang berkoar-koar tentang komitmen memelihara kelangungan hidup para petani sutera. Sementara realitas di lapangan, para petani justru menjerit karena kokon tidak bisa dijual.

Tatkala para petani ramai-ramai menebang pohon murbei --sebagai makanan ulat sutera—maka itu harus ditafsir sebagai bentuk respon mereka atas globalisasi yang menghisap energi kehidupan mereka. Jika globalisasi bisa dibaca sebagai terbukanya belahan bumi atas aneka akses informasi, maka globalisasi itu menjadi ancaman yang makin memperparah kehidupan para petani. Dalam kondisi seperti ini, maka semestinya proteksionisme atau perlindungan negara kepada petani mesti dilakukan. Mestinya pemerintah bisa memperketat impor benang demi memacu produksi sutera dalam negeri sekaligus mempertahankan energi hidup dari para petani di tingkat grass root. Pemerintah tak perlu dengan segala retorika akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Cukup menghentikan impor benang, maka sontak akan menghidupkan industri persuteraan yang mati suri dan kembali memberikan penghidupan bagi ribuan petani sutera di Kabupaten Wajo.(*)

[+/-] Selengkapnya...